ANALISIS SPASIAL KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2016-2019

Ernyasih Ernyasih, Rafika Zulfa, Andriyani Andriyani, Munaya Fauziah

Abstract


Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit berbasis lingkungan yang masih menjadi permasalahan di dunia. Tahun 2015, jumlah kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Tangerang Selatan sebanyak 480 kasus. Kemudian  pada Januari 2019 dari 368 kasus Demam Berdarah Dengue di Provinsi Banten, 2 diantaranya meninggal dunia yang diketahui berasal dari wilayah Tangerang Selatan.  Desain penelitian ini  menggunakan studi ekologi. Penelitian dilakukan bulan Februari - Mei tahun 2020, di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan yang mencangkup 7 wilayah Kecamatan. Populasi dalam penelitian adalah seluruh kasus Demam Berdarah Dengue per Kecamatan selama tahun 2016 sampai dengan tahun 2019.  Hasil penelitian diketahui wilayah yang termasuk ke dalam zona merah pada tahun 2016 adalah Kecamatan Pamulang, Pondok Aren dan Serpong, sedangkan tahun 2018 yang termasuk ke dalam zona merah adalah wilayah Kecamatan Setu dan Serpong. Terjadi penurunan kasus di tahun 2017 dan 2019, terlihat pada peta tidak terdapat wilayah Kecamatan yang termasuk ke dalam zona merah. Hanya ada wilayah zona putih dan zona hijau. Pola persebaran penyakit cenderung bergerak ke arah yang positif pada variabel umur, status pekerjaan, status pendidikan dan kepadatan penduduk. Sedangkan pada variabel jenis kelamin terlihat pola persebaran ke arah yang negatif.

Kata Kunci : Analisis Spasial, Demam Berdarah Dengue.

---

Dengue Hemorrhagic Fever is an environmental-based disease that is still a problem in the world. In 2015, the number of cases of Dengue Hemorrhagic Fever in South Tangerang City was 480 cases. Then in January 2019 of 368 cases of Dengue Haemorrhagic Fever in Banten Province, 2 of them died that were known to come from the South Tangerang area. This research design uses ecological studies. The study was conducted in February - May 2020, in the working area of the South Tangerang City Health Office which covered 7 District areas. The population in this study were all cases of Dengue Hemorrhagic Fever per District during 2016 to 2019. The results of the study are known to the regions included in the red zone in 2016 are Pamulang, Pondok Aren and Serpong Subdistricts, while in 2018 those included in the red zone are the Setu and Serpong Subdistricts. There has been a decrease in cases in 2017 and 2019, as seen on the map there are no District areas included in the red zone. There are only white zones and green zones. Disease distribution patterns tend to move in a positive direction on the variables of age, employment status, educational status and population density. Whereas in the gender variable visible patterns of distribution in a negative direction.

Keywords: Spatial Analysis, Dengue Hemorrhagic Fever.


Full Text:

PDF

References


Fajriatin, Wahyuningsih. Analisis Spasial Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi Tahun 20112013. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulla;. 2014. 2. WHO. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dengue dan Demam Berdarah Dengue. Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004. 3. Handayani. Tanaman Obat dan Ramuan Tradisional Untuk Mengatasi DBD. Jakarta; Agro Media. 2006. 4. Kemenkes RI. Pengendalian Demam Berdarah Dengue Untuk Pengelolaan Program DBD Puskesmas. Jakarta; Dirjen P2P. 2015.

Novikasari, Linawati. Hubungan Pengetahuan Orang Tua Tentang Demam Berdarah Dengue Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Anak di Puskesmas Iring Mulyo Kota Metro Tahun 2014. Jurnal Kesehatan Holistik . Universitas Malahayati Bandar Lampung. 2016. 6. WHO. Dengue Explorer 1.1 . World Health Organisation : Geneva.;2017. 7. Muhammad, Farhandika. Et al. Hubungan Pengetahuan dan Status Sosial Ekonomi Terhadap Upaya Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Desa Pajaresuk Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu. Lampung; Universitas Lampung. 2018. 8. Masrizal, dkk. Analisis Kasus DBD Berdasarkan Unsur Iklim dan Kepadatan Penduduk Melalui Pendekatan GIS di Tanah Datar. Padang: Universitas Andalas. 2015. 9. Dardjito E, Yuniarto S, Wibowo C, Dwiyanti H. Beberapa Faktor Resiko yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Banyumas, Media Litbang Kesehatan. 2008. XVIII (3).

Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. Laporan Tahunan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Tangerang Selatan. 2020. 11. Hairani, L.K . Gambaran Epidemiologi Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Faktro-faktor Yang Mempengaruhi Angka Insidennya di Wilayah Kecamatan Cimanggis, Kota Depok Tahun 2005-2008. Universitas Indonesia. 2009. 12. Kasman, dan Nunung Irnawulan Ishak. Analisis Penyebaran Demam Berdarah Dengue di Kota Banjarmasin Tahun 2012-2016. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia. 2018; Vol 1(2). 13. Notoatmodjo S. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta;2011. 14. Suryani, Endah Tri. The Overview of Dengue Hemorrhagic Fever Cases in Blitar City from 2015 to 2017. Jurnal Berkala: Epidemiologi. 2017. 15. Marwanty, Tri Yunis Miko Wahyono. Faktor Lingkungan Rumah dan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Palopo 2016. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia. 2018; vol 1 (2). 16. Putri, Rezky. Dan Zaira Naftasaa. Hubungan Tingkat Pendidikan dan

Pengetahuan Masyarakat dengan Perilaku Pencegahan Demam Berdarah Dengue di Desa Kemiri, Kecamatan Jayakerta, Kerawang tahun 2016. Jakarta: Universitas Muhammadiyah Jakarta.2017. 17. Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta : Rineka Cipta;2007. 18. Respati, Titik. Dkk. Berbagai Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Bandung. Ciamis: Jurnal Kesehatan. 2017. 19. Statistik Indonesia Dalam Infografis 2018. Diakses pada tanggal 10 Desember 2019. https://www.bps.go.id. 20. Widoyono. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahannya, dan Pemberantasannnya. Jakarta: Erlangga; 2008.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.
Powered by Puskom-UMJ