KAJIAN KONSEP KAMPUNG VERTIKAL PADA KAMPUNG ADMIRALTY SINGAPURA

Alfan Sutantio, Lutfi Prayogi

Abstract


ABSTRAK. Singapura merupakan negara yang maju dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Banyaknya pendatang baru ke Singapura dengan beragam etnis membuat lahan untuk mencari tempat hunian tinggal semakin sedikit dan padat. Hunian vertikal seperti rusun menjadi solusi untuk mengatasi kepadatan penduduk tersebut dengan biaya murah. Tetapi sebuah hunian vertikal belum mampu mengatasi persoalan mengenai sebuah kultur budaya “kampung” yang dibawa oleh pendatang yang memang berasal dari sebuah kampung. Kampung vertikal ada untuk mencoba mengatasi permasalahan mengenai sebuah kepadatan penduduk sekaligus mewadahi kultur kampung yang kental dengan kebersamaannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji kesesuaian bangunan Kampung Admiralty dengan konsep kampung vertikal. Metode penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif deduktif untuk menjelaskan berbagai hal tentang kampung vertikal dengan kajian teoritis sebagai pengarahnya. Hasil penelitian yang didapat berupa penjelasan kesesuaian bangunan Kampung Admiralty dengan konsep kampung vertikal.

 

Kata Kunci: Budaya Sosial, Hunian, Kampung, Kampung Vertikal. 

 

ABSTRACT. Singapore is a developed country with a high population density. The large number of new arrivals to Singapore with various ethnicities has made the land to find a place to live less and denser. Vertical housing such as flat is a solution to overcome this population density at a low cost. However, a vertical residence has not been able to solve the problem of a "village" culture brought by migrants who do come from a village. The vertical village exists to try to solve the problem of a population density as well as to accommodate the village culture that is thick with its togetherness. The purpose of this study was to assess the suitability of the Admiralty Village building with the vertical village concept. The research method uses descriptive qualitative deductive research methods to explain various things about the vertical village with theoretical studies as a guide. The results obtained are in the form of an explanation of the suitability of the Admiralty Village building with the concept of a vertical village.

 

Keywords: Social Culture, Residential, Village, Vertical Village.


Full Text:

PDF

References


Fauzia, A. N., Handajani, R. P., & Nugroho, A. M. (2014). “Fleksibilitas Interior Unit Hunian pada Rumah Susun di Kota Malang”. Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur, 2(2).

Gunawan, H. G., Sunaryo, R.G. (2015). “Kampung Vertikal Plemahan Surabaya”. eDimensi Arsitektur Petra, 3(2), 537-544. Surabaya

Karima, A. G., Purwantiasning, A. W., & Prayogi, L. (2019). “Konsep Kampung Vertikal Pada Penataan Kawasan Rawan Banjir dengan Konsep Kampung Vertikal di Kampung Melayu Jakarta”. PURWARUPA Jurnal Arsitektur, 2(2), 11-18.

Prihatmaji, Y., & Agumsari, D. (2016). “Kampung Vertikal di Manggarai Jakarta Selatan Berbasis Konsep Arsitektur Fleksibel”. Jurnal TESA, 14(1).

Rozak, A. (2017). “Kampung Vertikal Di Muara Angke Jakarta Dengan Pendekatan Arsitektur Ekologis” (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Semarang).

Suminar, El Yanno., Marsudi, M., & Handayani, K. N. (2016). “Kalianyar Vertical Kampong With Behavior Architecture In Jakarta. Arsitektura”, 14(1).

Taaluru, S. Y., Waani, J. O., & Warouw, F. (2015). “Kampung Vertikal Di Sindulang, Humanisme Dalam Arsitektur”. (Doctoral dissertation, Sam Ratulangi University).

Wilujeng, R. P. K. (2020). Merlion Park Sebagai Icon Negara Singapura. Yogyakarta. Sekolah Tinggi Pariwasata Ambarrukmo Yogyakarta.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jumlah Pengunjung


Powered by Puskom-UMJ